Hari ini Senin tanggal 31 Maret 2025. Tellasân pètra. ‘Īdul fitr. Bukan hari raya idul fitri. Sebab idul itu sudah berarti hari raya. Tapi apa benar tellasân itu hari raya? Jelas bukan. Tellasân berasal dari kata telas yang berarti ‘habis’. Tellasân maksudnya sehabis bulan puasa. Tellasân pètra bisa dibenarkan sebab bisa berarti ‘seusai zakat fitrah’.
Dengan maksud sama orang Jawa menyebut dengan kata bakda dengan a
terakhir dibaca [ɔ]. Artinya ‘setelah’. Diambil dari bahasa Arab ba’da. Lebaran
dengan arti ‘īd tidak ada dalam kosa kata Madura. Namun ada kata lebbhâr
yang berarti ‘selesai’.
‘Īdul aḍḥa? Di Madura disebut tellasân kurban. Nama lainnya tellasân rèrajâ.
Rèrajâ merupakan singkatan dari arè rajâ ‘hari besar’. Mungkin diadopsi
dari bulan jawa ke 12 Besar. Hari rayanya disebut besaran. Sama dengan
sebelumnya, tellasan ini merayakan puasa sunnah 9 hari bulan Zulhijah.
Selain ‘īdul fitr dan ‘īdul aḍḥa ada tellasân topa’. Orang
Jawa menyebutnya kupatan. Tellasân topa’ secara harfiah berarti ‘habis
ketupat’. Nama lainnya tellasân pètto atau tongarè. Dirunut
dari unsur idiom berarti ada yang habis, yaitu habis puasa syawal 6 hari. Dimulai
tanggal 2 dan berakhir tanggal 7. Jika tellasân pètra merayakan puasa
ramadan tellasân topa’ merayakan puasa sunah bulan syawal. Salat? Tentu tidak
ada. Sebab tellasân topa’ murni budaya.
‘Īdul fitr diisi dengan silaturahmi bermaaf-maafan. Tradisi ini dilakukan dengan satu-satu
mengunjungi kediaman sanak saudara. Biasanya yang muda mengunjungi yang lebih tua
atau berkumpul dirumah orang paling tua misalnya kakek-nenek atau buyut. Untuk ini,
ada tradisi mudik atau pulang kampung. Orang Madura dulu menyebutnya dengan toron
‘turun’. Di sisi lain berangkat kembali ke perantauan disebut ongghâ ‘naik’.
Selain itu ada tradisi ter-ater. Secara harfiah bersinonim dengan
bahasa Indonesia *antar-antar atau mengantar sesuatu. Tradisi ini dilakukan
dengan saling antar makanan kepada sanak saudara. Tujuannya bukan bertukar
makanan seperti pandangan sinis sedikit kalangan. Tujuan utamanya adalah silaturahmi
dan ter-ater merupakan medianya. Yang mengantar biasanya yang muda ke
yang lebih tua. Tujuan lainnya adalah mengenalkan anak muda pada sanak
saudaranya. Isi dari ter-ater sebenarnya sangat sederhana yaitu nasi dan
lauk, biasanya ayam. Sehingga ketika sanak saudara terasa jauh karena tidak
saling mengunjungi orang madura menyebutnya èlang nasè’ sapeṭṭok ‘hilang
nasi se-peṭṭok’. Sapeṭṭok adalah ukuran nasi yang dipadatkan
seukuran pengangan dua tangan.
‘Īdul aḍḥa tidak terlalu istimewa di Madura. Tidak ada tradisi khusus yang menyebabkan
perantauan yang agak jauh tidak pulang mudik. Namun, ketika tingkat ekonomi makin
baik, ‘īdul aḍḥa diisi dengan menyembelih hewan qurban. Dulu hanya
dilakukan di masjid. Sekarang, ada yang melakukannya di rumah dengan membayar
tukang sembelih dan potong daging qurban.
Tellasân topa’? Sebagian besar diisi dengan kegiatan rekreatif. Ada juga tradisi-tradisi
setempat. Di Kamal, kabupaten Bangkalan, misalnya, melakukan dengan naik perahu
ke tengah laut (Patoni 2024). Di beberapa
daerah ada yang membuat makanan khusus misalnya lepet.
Rujukan
0 comments:
Posting Komentar