Puasa Ramadan dengan segala nuansanya menjadi sangat istimewa. Amal ibadah berupa salat tarawih, zakat, sedekah, dan sebagainya dilipat gandakan pahalanya. Ya, sayang itu tak terlihat kasat mata. Yang jelas ada fenomena baju baru hari raya, opor ayam, uang jajan, dan makanan berbuka yang menggugah selera. Bagi anak kecil ini tentu istimewa meski di sisi lain membuat orang tua sedikit sakit kepala.
Bagi orang dewasa, mudik media silaturahmi dan menceritakan perantauan.
Sebagian untuk unjuk kesuksesan. Ada yang bawa mobil cc besar. Kita tak boleh
bersangka itu sewa. Baik sangka saja. Riuh saling nilai baju baru selesai salat
id dan mukena masuk lipatan sajadah. Sedekah tahunan ajang unjuk kesuksesan.
Hari lain? Lain cerita.
Tapi... biarlah. Itu bukan ajaran agama. Itu cara pikir. Kali ini kita
cerita budaya. Darusân. Akhiran -an sering bermakna budaya islami
seperti yâsinan, sabellâsân, manaqibhân, dsb. Tak relevan
disebut bid’ah sebab ini budaya. Bukan ibadah, seperti tellasân topa’
atau kupatan yang merupakan hari raya untuk enam hari puasa syawal. Isinya
hanya syukur soal hati. Seperti juga tahlilan yang sekarang sering diisi main
HP oleh sebagian generasi mudanya. He he he...
Darusân singkatan dari tadārus ‘saling belajar’. Berasal dari akar
dal, ra’, dan sin. Awalnya saling. Lama-lama jadi ajang unjuk kepintaran baca.
Awalnya saling meng(k)oreksi. Lama-lama saling menjatuhkan. Akhirnya darusan
beralih menjadi baca quran secara estafet. Tapi toh itu tak masalah. Daripada
tidak baca quran baik dalam ramadan maupun di luar.
Menarik? Tidak? Sudah biasa? Baik kita pindah ke makanan saja. Tapi, masih
dalam lingkup darusân. Syaiun.
Bukankah syaiun itu berarti sesuatu? Di desa saya syaiun adalah
suguhan yang diberikan suka rela oleh anggota masyarakat. Wujudnya bisa apa saja.
Gorengan, lemper, atau bahkan hidangan makan seperti nasi, bubur, dsb. Tentu
saja pasti ada kopi. Tapi, mengapa syaiun? Apa orang kampung saya begitu
fanatik dengan bahasa Arab? Atau apa itu nama yang lebih islami daripada nama
yang memakai bahasa lokal? Atau... ada ustaz atau ulama yang segan menyatakan ada
makanan sebab kesannya bu’-tabu’ân? Syaiun berperan sebagai
eufemisme untuk makanan? Wallahu a’lam.
Yang jelas, syaiun menemani kami untuk baca Quran sepanjang malam. Tentu
bagi yang tidak sekolah paginya. Sebelum saya tutup, saya ingin menjelaskan
kata bu’-tabu’ân. Kata ini berasal dari tabu’ yang berarti perut.
Bu’-tabu’ân adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan guru atau pemangku
yang suka meminta makanan dengan sindiran atau secara langsung. Tentu umat atau
santri terpaksa memberikan meski berat hati karena segan. Ini berlaku juga
untuk ulama atau ustaz yang mendatangi salah satu undangan dari beberapa dengan
pertimbangan nasi berkat yang paling baik.
0 comments:
Posting Komentar