ilustrasi dibuat dengan Gemini AI
Memiliki anak yang lucu adalah kebahagiaan yang dirasakan hampir semua orang tua. Saya tidak terkecuali. Anak pertama laki-laki lahir dalam masa studi S2 saya di Yogyakarta. Ia lahir tahun akhir tahun 2008. Abdullah Afaf Hamdani namanya. Adiknya, menyusul tiga tahun kemudian. Alina Rahma nama yang saya berikan. Nama yang dibubuhi doa semoga dia disayang Tuhannya.
Mereka lahir di lingkungan dengan masyarakat berpendidikan
SMA ke atas. Tinggal di lingkungan yang makhluk kecil itu diajak berbahasa
Indonesia. Meski dalam pengucapannya sarat dengan madura dalam logat dan suara.
Apa yang diharapkan orang tua yang jarang membaca dan sehari-hari berbahasa Madura?
Lalu mengapa memaksa anak berbahasa Indonesia sebagai
bahasa pertama? Entahlah. Alasan yang sering saya dengar, misalnya, karena di TK
diajar dengan bahasa Indonesia. Di SD apa lagi. Sejak kelas satu. Selain itu
mungkin berusaha naik kelas. Seolah-olah yang berbahasa daerah Madura berasal
dari golongan yang bekerja di sektor informal sedang yang berbahasa Indonesia
orang elit yang bekerja di sektor formal. Fenomena ini sering ditemui di daerah
perkotaan. Dan, tempat tinggal kami di area dekat kota kecamatan dan dekat pula
dengan jalan nasional.
Berada di tengah-tengah lingkungan seperti itu, kedua anak
saya mengambang dalam kegamangan. Dengan lingkungan yang berbahasa Indonesia,
serapan bahasa Madura mereka terbatas dan lambat. Dalam keterbatasan itu,
kreativitas anak-anak dengan kosa kata terbatas menerabas batas.
Ada suatu ketika bola plastik yang dimainkannya melenting
dan nyangkut di atap. Dengan wajah yang tetap berseri ia berkata, “Pa,
nyangsang. Kala’aghi, Pa?”
“Lo’ mattol, Cong.”
“Ngangghuy tangghâ, Pa.”[1]
Tangghâ dengan akhir [h] khas
bangkalan. Ya, tangghâ maksudnya tangga. Bukan andhâ yang merupakan kosa
kata yang benar untuk tangga. Tangghâ merupakan adaptasi darurat dari bahasa
Indonesia sebab tak ada kata andhâ di gudang kepalanya.
Di waktu yang lain ia komplain. Pohon tempat ia biasa bermain
ayunan ditebang. Di bawah pohon itu dia bermain tanah dengan sendok dan mangkok
melamin. Ia berkata, “Pa, bhungkana pao juwa mè’ ètebbhâng?”
“Ètebbhâng? Èpogher, Cong.” Kata saya. Mengoreksi.
“Iyâ, Pa. Èparobbhu.”[2]
Ètebbhâng merupakan adaptasi dari kata
“ditebang”. Kata ini tidak ada dalam bahasa Madura. Kata yang aktif di daerah
saya èpogher. Rupanya, dengan keterbatasan kosakata yang disimpan, ia
mengkonstruksi kosa kata bahasa Indonesia menjadi bahasa Madura.
Dan yang lucu baru-baru ini. Adiknya yang perempuan
memasak telur. Sebab tampak janggal dengan penglihatan minus saya, saya
bertanya.
“Jhuko’ apa jiya, Lin?”
“Tellor, Pa. Kèng ghusong.”
“Ghusong? Angos, Lin.”[3]
Meski “hangus” diadaptasi menjadi angos dalam
bahasa Madura, ghusong yang diadaptasi dari “gosong” tidak pernah ada
dalam perbendaharaan bahasa Madura.
Cerita ini fragmen dalam bahasa Madura yang terancam
mengarah ke “Maduraisasi” bahasa Indonesia. Mungkin ketiga kata ini akan
diselamatkan oleh anak-anak ini bersamaan dengan interaksi komunikasi yang
makin luas, namun banyak kata yang dibunuh oleh generasi penerus sebab mereka
tak lagi mendengar kaprah kata-kata yang dulu pernah ada. Solusi kreatif
adaptasi bahasa serumpun akan memperkaya repertoar bahasa dengan syarat tidak
menguburkan kata lama yang asli dan lokal. Apalagi,dalam kondisi tidak ada
leksikograf yang sempat menulis nisan kata-kata itu dalam pemakaman kata arkais
dalam kamusnya.








