08 Juni 2026

, ,

PETA TEORI SASTRA: MULAI KLASIK SAMPAI KINI

 

1.       Teori Klasik (Yunani-Romawi)

o    Teori Mimesis (Plato, Aristoteles)

o    Teori Struktur Tragedi (Aristoteles)

o    Teori Sublimitas (Longinus)

o    Teori Katharsis (Aristoteles)

o    Teori Dulce et Utile / Fungsi Didaktis-Estetis (Horatius – Ars Poetica)

2.       Teori Abad Pertengahan

o    Teori Alegori dan Tipologi

o    Teori Moralitas dan Didaktis Keagamaan

o    Teori Skolastisisme Sastra

o    Teori Iluminasi dan Mistisisme Sastra (Bonaventura)

o    Teori Poetria Nova / Retorika Baru (Geoffrey of Vinsauf)

3.       Teori Renaissance

o    Teori Humanisme

o    Teori Imitasi Alam

o    Teori Dignitas Hominis (Martabat Manusia) dalam Sastra

o    Teori Pembelaan Puisi / Apology for Poetry (Sir Philip Sidney)

4.       Teori Neoklasik (Abad 17–18)

o    Teori Aturan Klasik (Unities, Decorum)

o    Teori Rasionalisme Sastra (Boileau, Pope)

o    Teori Ut Pictura Poiesis (Sastra sebagai Lukisan)

o    Teori Batasan Genre dan Hierarki Sastra (John Dryden)

5.       Teori Romantik (Abad 18–19)

o    Teori Ekspresi (Wordsworth, Coleridge)

o    Teori Genius dan Imajinasi Kreatif

o    Teori Estetisisme Sastra (Théophile Gautier, Oscar Wilde)

o    Teori Fragmentasi Organik (Novalis, Friedrich Schlegel)

o    Teori Ironi Transendental (Ludwig Tieck)

6.       Teori Realisme dan Naturalisme (Abad 19)

o    Teori Refleksi Realitas dan Tipe Sosial (Honoré de Balzac, Gustave Flaubert)

o    Teori Determinisme Sosial, Biologis, dan Lingkungan / Eksperimen Ilmiah Sastra (Émile Zola)

o    Teori Objektivitas, Dokumen Manusia, dan Trias Kritik / Race, Milieu, Moment (Hippolyte Taine)

7.       Teori Hermeneutika Sastra (Abad 19–Awal Abad 20)

o    Hermeneutika Romantik dan Rekonstruksi Psikologis (Friedrich Schleiermacher)

o    Hermeneutika Historis, Geisteswissenschaften & Lingkaran Hermeneutik (Wilhelm Dilthey)

o    Hermeneutika Eksistensial dan Ontologis (Martin Heidegger, Hans-Georg Gadamer)

o    Hermeneutika Kecurigaan / Hermeneutics of Suspicion (Paul Ricoeur)

8.       Teori Formalisme Rusia (Awal Abad 20)

o    Teori Literaturnost / Kesastraan (Sastra sebagai teks otonom)

o    Teori Defamiliarisasi / Pengasingan (Ostranenie – Viktor Shklovsky)

o    Teori Fabula dan Syuzhet (Materi Cerita/Kronologis vs Struktur Alur/Plot)

o    Teori Dominan dan Fungsi Estetik (Roman Jakobson, Yury Tynyanov)

9.       Teori Formalisme Baru & Anglo-American New Criticism (1930-1950-an)

o    Teori Pembacaan Dekat (Close Reading – I.A. Richards, T.S. Eliot)

o    Teori Kekeliruan Intensional & Afektif (Intentional & Affective Fallacy – W.K. Wimsatt, Monroe Beardsley)

o    Teori Otonomi Puisi, Struktur Organik, dan Heresy of Paraphrase (Cleanth Brooks)

o    Teori Ambiguitas Sastra (William Empson)

10.    Teori Strukturalisme (1950-60-an)

o    Teori Relasi Oposisi Biner dan Semiotika Struktural (Ferdinand de Saussure, Claude Lévi-Strauss)

o    Teori Naratologi Struktural (A.J. Greimas – Skema Aktan, Tzvetan Todorov, Gérard Genette)

o    Teori Kode Sastra dan Struktur Tekstual (Roland Barthes – S/Z)

o    Teori Morfologi Cerita Rakyat (Vladimir Propp)

11.    Teori Marxis

o    Teori Ideologi, Realisme Sosialis, dan Hegemoni (György Lukács, Antonio Gramsci)

o    Teori Basis-Superstruktur, Sosiologi Dialektis, dan Produksi Sastra (Raymond Williams, Terry Eagleton)

o    Teori Negasi, Kritik Immanen, dan Dialektika Sastra (Theodor Adorno, Herbert Marcuse, Walter Benjamin)

o    Teori Efek Ideologis Teks Aparatus Negara (Louis Althusser)

12.    Teori Sosiologi Sastra (Dialektis & Medan Kultural)

o    Teori Strukturalisme Genetik (Lucien Goldmann)

o    Teori Medan Produksi Kultural, Habitus, dan Kapital (Pierre Bourdieu)

o    Teori Sastra sebagai Praksis Sosial dan Sosiologi Buku (Robert Escarpit)

13.    Teori Psikoanalisis

o    Teori Alam Bawah Sadar, Id-Ego-Superego, dan Mekanisme Defensif Teks (Sigmund Freud)

o    Teori Arketipe, Alam Bawah Sadar Kolektif, dan Mitos (Carl Gustav Jung, Northrop Frye)

o    Teori Lacanian tentang The Symbolic, The Imaginary, and The Real serta Sastra sebagai Hasrat (Jacques Lacan)

o    Teori Psikobiografi Sastra dan Analisis Patografis (Marie Bonaparte, Ernest Jones)

14.    Teori Resepsi Sastra (1970-an)

o    Teori Horizon Harapan (Erwartungshorizont – Hans Robert Jauss)

o    Teori Estetika Resepsi dan Struktur Ketidakpastian Teks (Wolfgang Iser)

o    Teori Komunitas Interpretatif (Stanley Fish)

o    Teori Pembaca Implisit / Implicit Reader (Wolfgang Iser)

o    Teori Model Semiotika Pembacaan (Umberto Eco – The Role of the Reader)

15.    Teori Postmodernisme (1970-80-an)

o    Teori Decentering dan Kematian Metanarasi (Jean-François Lyotard)

o    Teori Simulakra, Simulasi, dan Hiperrealitas Tekstual (Jean Baudrillard)

o    Teori Intertekstualitas dan Transformatif Teks (Julia Kristeva)

o    Teori Parodi, Pastiche, dan Historiografis Metafiksi (Linda Hutcheon, Fredric Jameson)

16.    Teori Pascastrukturalisme & Dekonstruksi

o    Teori Dekonstruksi Tekstual (Jacques Derrida)

o    Teori Différance, Trace (Jejak), dan Indeterminacy (Jacques Derrida)

o    Teori Kematian Pengarang (The Death of the Author – Roland Barthes)

o    Teori Diskursus, Arkeologi Pengetahuan, dan Relasi Kuasa-Pengetahuan (Michel Foucault)

17.    Teori Poskolonial (1980-90-an)

o    Teori Hibriditas, Mimikri, dan Third Space (Homi K. Bhabha)

o    Teori Subaltern dan Historiografi Kaum Pinggiran (Gayatri Chakravorty Spivak)

o    Teori Nation and Narration / Sastra Kebangsaan (Homi K. Bhabha, Benedict Anderson)

o    Teori Orientalisme dan Imperialisme Budaya (Edward Said)

o    Teori Dekolonisasi Pikiran dan Resistensi Kebudayaan (Frantz Fanon, Ngũgĩ wa Thiong'o)

18.    Teori Feminisme dan Gender

o    Teori Kritik Sastra Feminis & Gynocriticism (Elaine Showalter, Toril Moi, Virginia Woolf)

o    Teori Queer, Performativitas Gender, dan Dekonstruksi Heteronormativitas (Judith Butler, Eve Kosofsky Sedgwick)

o    Teori Ekofeminisme Sastra (Françoise d'Eaubonne, Vandana Shiva)

o    Teori Feminis Postkolonial / Interseksionalitas (Chandra Talpade Mohanty, Trinh T. Minh-ha)

o    Teori Écriture Féminine / Tulisan Perempuan (Hélène Cixous, Luce Irigaray)

19.    Teori Pascamodernisme Akhir & Teori Kontemporer (2000–kini)

o    Teori Ekokritik dan Sastra Lingkungan / Antroposentrisme vs Biosentrisme (Cheryll Glotfelty, Lawrence Buell)

o    Teori Posthumanisme, Transhumanisme, dan Animal Studies dalam Sastra (Cary Wolfe, Donna Haraway)

o    Teori Digital/Kyborsastra dan Sastra Elektronik (N. Katherine Hayles)

o    Teori Decolonial dan Planetary Literature (Walter Mignolo, Gayatri Spivak)

o    Teori Materialisme Baru (New Materialism) & Kritik Afek / Affect Theory (Jane Bennett, Lauren Berlant)

o    Teori Sastra Global dan World Literature (Pascale Casanova, David Damrosch)

o    Teori Autofiksi dan Post-truth Naratif (Serge Doubrovsky)

o    Teori Metamodernisme / Osolasi Struktur Perasaan (Timotheus Vermeulen, Robin van den Akker)

 

Continue reading PETA TEORI SASTRA: MULAI KLASIK SAMPAI KINI

01 Juni 2026

, ,

APAKAH SASTRA BANGKALAN KIAN SEPI?

 

Muhri

 

Berbicara sastra Bangkalan selalu berbicara tentang pertumbuhan karya. Pertumbuhan karya tidak mungkin terlepas dari kerja-kerja kebudayaan yang berkaitan dengan regenerasi dalam bingkai visi kebudayaan masa depan. Pertanyaan yang muncul kemudian. “Apakah identitas khusus sastra Bangkalan?”, “Bagaimana sastra Bangkalan tercipta?”, dan “Untuk apa atau apa guna sastra Bangkalan diciptakan?”.

Sastra Bangkalan lahir dalam komunitas seni yang plural. Komunitas ini lahir di sekolah dan kampus. Komunitas-komunitas ini kemudian berkembang menjadi komunitas mandiri yang memiliki manajemen mandiri. Sebab lahir dalam dunia akademis, sastra Bangkalan sebagian besar ditulis masa sekolah atau masa kuliah. Jumlah per tahunnya pun fluktuatif. Dalam masa kurang lebih 27 tahun puncak penulisan sastra ada pada dekade kedua abad ke-21, terutama masa antara 2016-2017. Jumlah tersebut bersamaan dengan gelaran Festival Puisi Bangkalan 2 & 3 yang diselenggarakan Komunitas Masyarakat Lumpur. Rata-rata penerbitan pertahun tercatat di angka 5 buku, dengan dukungan puncak penerbitan 2016 & 2017. Bagaimana dengan penerbitan tahun-tahun terakhir?



Berdasarkan data grafik di atas dalam 6 tahun terakhir terdapat rata-rata 2,5 penerbitan. Catatan ini tidak mempertimbangkan kualitas sastra, misalnya Abdur Rohman yang menulis dalam satu tahun 3 buku puisi. Buku yang memperoleh prestasi dalam ajang lomba hanya Burdah karya Eko Sabto Utomo, penulis generasi ketiga yang masih aktif menulis sampai hari ini.

Ditinjau dari jenis sastra dari 2021-2025 hampir tidak ada naskah drama ditulis. Satu naskah drama yang ditulis Putra Mulya Nurjaya adalah Sendèlan Madhurâ dengan judul Bhâk-Tebbhâghân. Drama ini merupakan proyek hibah Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur. Selain itu ada Lèng-Ngalèng Bunto’na Tèkos dengan konsep Sendèlan Madhurâ juga.

Prosa pun tidak kalah memprihatinkan. Hanya ada tiga buku prosa dalam rentang tersebut yaitu Paraban Tuah (cerpen) oleh Elok Teja Suminar, Mas, Jemput Aku Jam Sembilan Nanti Malam (Cerpen) oleh Muhri, dan Berlibur ke Kampung Batik Madura (cerita anak) oleh Buyung Pambudi.

Buku puisi yang pernah terbit antara 2021-2026 sebanyak 10 buku. Buku tersebut ditulis oleh beberapa pengarang: Salman alfarisi 1 buku, Muhlis Alfirmany 1, R. Dian Kunfillah 2 buku, Eko Sabto Utomo 1 buku, Syarifuddin Dea 1 buku, Sofiyulloh 1 satu buku, dan Abdurrohman 3 buku.

Apakah jumlah tersebut sedikit? Tercatat angka rata-rata 2,5 karya per tahun jika dihitung mulai 2021-2026. Apakah ini banyak atau sedikit? Sebagai tolok ukur, rata-rata karya mulai 1998-2026 tercetak 5 karya per tahun. Angka rata-rata 5 ini juga bukan menunjukkan bahwa rentang-rentang waktu sebelumnya juga sejumlah itu. Angka tersebut dipengaruhi oleh pesatnya penerbitan pada 2016 dan 2017 yang jumlahnya 52,23 % dari semua karya yang pernah terbit. Dengan demikian jelas bahwa menentukan sastra Bangkalan makin sepi atau tidak bukan perkara yang sederhana. Pertama tolok ukur sepi atau ramai untuk sastra Bangkalan tidak memiliki patokan yang jelas.

Secara aksiologis, motif kepenulisan di Bangkalan tidak merata atau masih terpusat pada satu bagian saja. Dengan motif-motif berikut bisa dikaji motif penulis Bangkalan melakukan gerakan menulis.

1.       Egoisme yang Murni (Pure Egoism)

2.       Antusiasme Estetis (Aesthetic Enthusiasm)

3.       Dorongan Historis (Historical Impulse)

4.       Tujuan Politis (Political Purpose)

5.       Katarsis dan Terapi Psikologis (Catharsis)

6.       Eksplorasi Eksistensial dan Filosofis

7.       Keinginan Membangun Koneksi dan Empati

8.       Pelarian (Escapism) dan Penciptaan Dunia Baru[1]

Dalam pengamatan saya saat bergaul dengan sastra Bangkalan, motif Egoisme Murni (1.). masih merupakan motif dominan. Salah satu indikatornya puisi liris yang menjadi “penguasa” ruang sastra. Sebagian besar penulis sastra Bangkalan adalah penulis pemula yang hanya menulis dalam rentang waktu singkat antara satu tahun sampai tiga tahun. Mereka meninggalkan tulis-menulis begitu keluar dari komunitas atau lulus dari kampus.

Motif-motif lomba (7.) juga menjadi salah satu indikator motif yang cukup mengemuka. Banyak karya-karya, terutama antara 2010-2020 yang diciptakan dengan motif spesifik untuk lomba. Tema yang diangkat mengikuti tema lomba. Rentang penciptaan biasanya antara pengumuman sayembara sampai akhir pendaftaran. Salah satu karya “terbaru” yang memiliki motif ini adalah Burdah karya Eko Sabto Utomo. Karya ini merupakan karya favorit dalam Lomba Cipta Naskah Buku Puisi Tunggal tentang Kanjeng Nabi Muhammad Saw.[2]

Motif ini juga merupakan motif utama naskah drama antara 2011-2020. Motif ekspresif pada 2001–2010-an. Tokoh utama drama Suro Wahono dengan “Negoro Lesmono” dan M. Helmy Prasetya dengan beberapa naskah yang dipentaskan dalam berbagai event.

Motif tujuan politis (4.) merupakan motif yang jarang ditemukan dalam perkembangan sastra Bangkalan. Hampir tidak ada puisi-puisi yang peka sosial-politik. Salah satu penulis yang berkelindan dengan motif politik adalah Syarifuddin Dea[3]. Hal ini bisa ditemukan pada beberapa karya, diantaranya Catatan Penyair Sudra. Selain itu, ada Moh. Ridlwan dalam kumpulan puisi Di Balik Kaca.

Yang menarik puisi Joko Sucipto yang cenderung berisi tentang pelarian pada dunia masa kecil dan kegelisahan-kegelisahan terhadap dunia sekitar (8.). Ada dua karya yang menarik yaitu Klonnong[4] dan Lomba Azan Maghrib. Khusus untuk Klonnong, puisi ini juga memiliki motif (7.).

Berdasarkan dinamika fluktuasi data tersebut, sepi atau ramainya sastra Bangkalan pada akhirnya tidak bisa hanya diukur dari angka penerbitan semata. Selama motif-motif kepenulisan yang beragam belum sepenuhnya digali dan dihidupkan, sastra Bangkalan akan tetap berjalan di tempat, didominasi oleh egoisme murni para penulisnya. Tantangan bagi generasi hari ini adalah bagaimana mentransformasikan gerakan menulis tersebut dari sekadar pelepas ego atau formalitas akademis, menjadi kerja kebudayaan yang lebih utuh demi visi kebudayaan masa depan.



[1] Nomor 1 – 4 dari George Orwell dalam Why I Write (2005)

[2] Seleksi dipilih juara 1-3 dan 3 karya favorit

[3] Penulis sastra Indonesia dari Bangkalan generasi pertama.

[4] Karya terpilih kategori penulis baru Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2016

Continue reading APAKAH SASTRA BANGKALAN KIAN SEPI?