Bertajuk “Launching Buku From The Stage History Of Madura” Acara ini kelanjutan dari pameran dengan judul di atas. Pelakunya adalah Pak Choirul Anwar. Tempat di San-Rasan Cafe pada 30 November 2025. Sebuah cafe yang ternyata sudah tutup.
Hadir dalam acara seniman-seniman lukis, antara lain: Pak
Ir, Pak Syahrul Hanafi, dan Pak Johan. Pak Edi datang kemudian. Sesepuh Bangkalan
Pak Doing, Bu Supi, dan Mas Sudarsono. Dari Komunitas Masyarakat Lumpur ada Joko,
Jaya, Alan, dan Alfarozi. Halim datang kemudian. Dari akademisi saya dan Ahmad Faishal.
Acara dibuka sekitar pukul 20.05. Helmi berperan sebagai
pembawa acara. Dalam format santai dan lebih banyak bergurau acara dimulai
dengan sambutan dari pemerintah. Sambutan disampaikan Pak Hendra dari Disbudpar
Bangkalan. Meskipun, diklarifikasi bahwa sebenarnya ia hadir secara pribadi. Dalam
sambutannya ia mengapresiasi keseriusan Pak Chairul dalam berkarya.
Selanjutnya pemberian karangan bunga oleh anak dan cucu
Pak Chairul dalam rangka ulang tahun ke-63. Dilanjutkan dengan penyampaian pembuka
oleh seniman pelaku. Ia menyatakan bahwa acara ini merupakan acara biasa saja. Tidak
mengharapkan sesuatu yang istimewa. Pernyataan dilanjutkan dengan apresiasi
terhadap seniman Bangkalan. Disebutkan satu persatu. Dalam pernyataan tersebut
dinyatakan bahwa seni tidak atau sulit untuk memperoleh uang atau valuasi
sehingga hanya dengan dedikasi tokoh-tokoh tersebut bisa terus berkarya.
Selanjutnya ia menyatakan bahwa ¾ usianya dihabiskan untuk
melukis. Namun, ada jeda sekitar 20 tahun masa tidak produktif. Baru tahun 2022
ia kembali aktif berkarya. Karya tahun 2022 dan setelahnya yang dipamerkan
dengan tajuk di atas. Jumlah keseluruhan ada 27 dengan seleksi berdasarkan
tema. Rencananya ada tujuh lokasi pameran seluruh Bangkalan. namun dalam
realisasinya hanya terjadi di empat tempat yaitu pembukaan di Bangkalan,
kemudian Arosbaya, Klampis, dan Kamal. Dalam pengakuannya, Pak Choirul
menyatakan bahwa karya tersebut merupakan tafsir pribadi terhadap tema, tidak
didasarkan pembacaan mendalam apalagi riset. Akhirnya, ia menyampaikan bahwa
buku tersebut merupakan pracetak sehingga acara ini hanya launching. Selanjutnya
pascacetak diharapkan akan ada bedah buku.
Acara selanjutnya merupakan testimoni dari sesama seniman
lukis. Testimoni pertama disampaikan
oleh Pak Ir. dalam testimoni tersebut, ia membagikan hubungannya dengan Pak
Choirul yang merupakan teman diskusi dan berbagi ide. Dalam kesempatan ini juga
ia menyatakan kritik karya bahwa ia lebih suka karya-karya sebelumnya yang
lebih kelihatan ke-Maduraannya. Hal ini berbeda dengan karya yang dipamerkan
yang cenderung “abstrak”. selain itu ia mengapresiasi acara ini. Ia menyatakan
bahwa tidak semua seniman mampu melaksanakan kegiatan semacam ini.
Testimoni selanjutnya oleh Pak Syahrul. Ia mengapresiasi
semangat, totalitas, dan ketiadaan tendensi Pak Choirul dalam berkarya. Ia mengistilahkan
ketiganya dengan “kegilaan”. Ia juga menyatakan bahwa “kegilaan” tersebut
memotivasinya untuk kembali berkarya.
Acara diselingi dengan pembacaan puisi oleh Santoso Madura.
Ia seorang pegiat seni dan ASN di MTsN 1 Pamekasan. Mungkin guru. Entahlah. Puisi
yang pertama “Cintaku Padamu”. Sebuah puisi tentang kecintaan pada Madura.
Selanjutnya penyampaian materi oleh Joko Sucipto. Dalam bahasa
KML pembincang. Dalam pemaparannya Joko menyatakan bahwa dalam buku terebut ia
hanya berperan sebagai perancang buku dalam layout dan susunan teks. Kemudian Joko
menanggapi kritik yang mempermasalahkan mengapa acara diberitajuk dalam bahasa
Inggris, Apakah tidak mencintai bahasa Indonesia? Joko menjawab dengan
pertanyaan, “Mengapa bukan malah dengan bahasa Madura?” Dengan jawaban ragu ia
menyatakan mungkin hendak membawa ke-Maduraan dalam ruang universal.
Kembali selingan puisi. Kali ini dua puisi lagi. Pertama
berjudul “Setetes Darah Basahi Indonesiaku”. Katanya puisi ini didasari sebuah
lukisan. Puisi kedua berjudul “Bila Kau Lihat”.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan diskusi. Pertama Pak
Doing. Beliau mengingatkan yang hadir pada seorang guru. Seorang pelukis
bernama Pak Sumaji. Beliau menyatakan seniman memiliki kepekaan zaman dan
terkadang karyanya merupakan proyeksi masa depan. Ia menceritakan lukisan Pak
Sumaji yang dominan warna merah, kuning, hijau yang ternyata merupakan visi
masa depan tentang politik yang mengubah partai menjadi tiga yaitu PPP (hijau),
PDI (merah), dan Golkar (kuning). Untuk mengenang seniman tersebut, ia meminta
yang hadir memberi hadiah fatihah kepada beliau.
Komentar selanjutnya oleh Acong. Ia menyampaikan posisinya
sebagai salah satu penggagas pameran tersebut. Bahwa dalam tajuk berbahasa Inggris
tersebut kata stage (panggung) merupakan idenya yang diambil dari konsep
dramaturgi. Bahwa kegiatan ini dibungkus dalam dialektika aksi dan reaksi. Bahwa
selain berkarya, ada gerakan atau aksi yang diharapkan menghasilkan reaksi.
Dialektika ini yang diharapkan menggerakkan sistem kesenian Bangkalan menjadi
terbaca secara nasional. Ia menyayangkan lukisan ini hanya diapresiasi tingkat
lokal. Ia membayangkan jika lukisan ini diapresiasi tingkat nasional oleh
pelukis-pelukis misalnya di Yogyakarta. Apresiasi tingkat nasional ini pastinya
akan membuat lukisan ini tidak sekedar karya. Tetapi memiliki nilai jual.
Begitu kira-kira maksud dari Acong.
Selanjutnya Mas So. Dengan mendasari pengalamannya sebagai
seniman tari, ia pesimis dengan kata pelestarian. Seni bisa lestari menurutnya
hanya dengan rasa suka. Ia juga tidak percaya dengan konsep pengkaderan. Saya tidak
mengerti awalnya. Baru saya paham ketika acara selesai ternyata ini terkait dengan
pengalaman pribadi soal penerusnya.
Terakhir Helmi menguatkan pernyataan Acong. Soal pembicaraan
mengenai awal pameran. Soal pematangan konsep-konsep, dsb.
Setelah acara ini, saya mengerti satu hal. Bangkalan sulit
melenting atau mumbul sebab reduksi nilai dalam seni. Seni yang medioker. Ada satu
kelemahan besar dalam gerakan yaitu “pendalaman”. Karya yang dibuat untuk event.
Pola gerakan ini juga yang mendasari pameran. Yang mungkin dilupakan adalah
karya seni dan budaya merupakan “bagian” dari penciptanya. Pencipta tidak
berjarak dengan karyanya. Satu kata antara otak, hati, dan karya. Seperti Tirani
dan Benteng dibandingkan dengan Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Dua karya
yang ditulis oleh penulis yang sama, Taufiq Ismail, namun dengan getaran yang
berbeda. Tirani dan Benteng ditulis sambil ikut menjadi pendemo,
sedangkan MAJOI ditulis dengan perspektif pengamat. Tirani dan Benteng
menyatukan ide, rasa, dan karsa. Sedangkan MAJOI hanya menyampaikan ide,
minim rasa dan karsa.




